Fanfiction

FF/Suga BTS/Just Same As You/pt.1

2015-11-28-17-19-34_deco

Title : Just Same As You
Author : Lily @Army7a01_
Main Cast :
-Kim Hyerin (OC)
-Min Yoon Gi/ Suga (BTS)
Rating : T (15+)
Genre : School life, Romance, Family
Leght : Chaptered

Note: Chapter 1 dulu yah 😉 hehehehe..
Hati-hati TYPO. Dilarang Copast! Plot asli milik Author. Happy Reading~
.
.

-AUTHOR POV-

“Hyerin-a.. tidak apa-apa kan nak?” Ucapan seorang wanita paruh baya itu berhasil membuyarkan lamunan sang buah hati yang sedari tadi diajak bicara.

“Eoh? Bisa eomma ulangi?” Sang anak bertanya tanpa merasa bersalah sedikitpun. Tangan kanannya masih sibuk memegang sepasang sumpit yang menari-nari di atas mangkuk.

Sang ibu hanya menghela nafas sambil melirik sang suami yang sedang sibuk berkencan dengan koran paginya itu.

“Eomma dan Appa akan pergi ke Jepang untuk beberapa bulan, kau akan tinggal disini bersama bibi Hwang dan yang lainnya. Mereka akan tetap bekerja seperti biasa, kau juga akan tetap beraktivitas seperti biasa. Bisakan nak?” Sang Ibu mengulangi perkataannya sekali lagi dengan sabar.

“Walaupun aku jawab tidak bisa tetap saja Eomma dan Appa akan pergi juga kan? Jadi untuk apa Eomma bertanya seperti itu”

“Hem.. iya Eomma..” Sebuah kurva melengkung terbentuk di kedua sudut bibir sang ibu kala mendengar jawaban sang putri.

“Hyerin.. kau ini semakin terlihat dewasa saja. Bagaimana hari pertamamu di kelas tiga?” Sang Ibu memulai pembicaraan riang dengan sang putri, bermaksud agar mencairkan suasan yang terlihat tegang sedari tadi.

“Seperti biasa,teman-temannya juga sama. Tidak ada yang istimewah” Ujar sang putri cuek masih sambil tetap memainkan sumpitnya. Sang ibu hanya memaklumi sifat anaknya itu, sudah sangat paham dengan watak dan perilaku anaknya.

“Baiklah,aku berangkat dulu nanti aku terlambat” Sang anak membungkuk sejenak lalu pergi menyambar tasnya, menyisakan setengah porsi nasinya di dalam mangkuk keramik yang terlihat mengkilap itu.

“Hati-hati” satu kata singkat terlontar dari mulut sang ayah kala melihat putri sematawayangnya yang mulai pergi berangkat menimbah ilmu itu. Terdengar singkat tapi berhasil membuat sang ibu tersenyum bahagia.
Sesibuk-sibuk apapun orang tua, pasti sedikit tidaknya masih ada perhatian yang ia berikan pada anaknya sendiri.

-KIM HYERIN POV-

Hai Namaku Kim Hyerin, kau bisa memanggilku Hyerin atau Hye. Aku salah satu murid pintar dari sekian murid-murid pintar di sekolah ini. Kelas unggulan,tentu saja itu kelasku. Siapa juga murid pintar yang mau masuk kekelas bawah? Tentu saja tidak ada, maka ia tidak bisa dikatan pintar bila bergabung dengan murid-murid yang IQnya dibawah rata-rata bukan? Dengan begitu saja ia sudah bisa dikatakan ‘bodoh’.

Sepanjang aku berjalan dikoridor gedung sekolah ini tidak ada hal menarik yang tertangkap indra penglihatanku sampai salah satu hakseng populer itu menabrak bahuku.

“Eghh..” aku hanya mendengus kesal kala melihat ekspresi tidak bersalahnya itu.

“Kau ini, pagi-pagi sudah membuat moodku tidak enak saja” ucapnya disertai lagak sok keren khasnya. Anni bukan sok keren, dia memang keren.

“Justru kau yang membuat moodku tidak enak” Ucapku sebal karena mendengar ucapannya yang menyalahkanku barusan.

“Tsk! Sudahlah” Ia kembali berjalan santai sambil memasukkan kedua pergelangan tangannya kesaku celananya. Berjalan santai seperti tidak terjadi apa-apa barusan. Tsk! Selalu seperti itu.

Aku menduduki bangku ini,bangku yang akan menjadi sandaranku selama satu tahun penuh dikelas tiga SMU ini. Kugantungkan tasku disisi meja, mengambil kertas buram dan mulai mencoret-coret. Kegiatanku setiap hari,menulis naskah yang entah kapan terbitnya aku tidak tahu. Yang aku tahu inilah hobiku.

Kring***

Suara nyaring lonceng sekolah yang memekakan telinga itu terngiang diseluruh penjuru sekolah, menandakan kegiatan belajar mengajar akan segera dimulai. Mengakibatkan murid-murid yang tadi berada entah dimana bergegas masuk kedalam kelasnya,jika mereka tidak ingin mendengar suara yang lebih memekakan telinga atau biasa disebut ocehan dan amukan guru.

“Eoh?” Aku tersentak ketika seseorang duduk disampingku. Orang yang pagi ini membuat moodku tidak enak.

Mungkin kau bisa sebut ini takdir. Setelah kemarin pencabutan nomor tempat duduk, aku dipindah dari meja idamanku, didepan ditengah barisan akan memudahkanku mendengarkan penjelasan guru, ditambah lagi duduk bersama sahabatku. Tapi gara-gara takdir itu, aku dipindahkan kemari. Sudahlah dibelakang, diujung kelas, disudut lagi, semakin membuatku kesal kala aku tahu chairmateku adalah rivalku sendiri. Si hakseng keren nan cerdas itu. Lengkaplah sudah.

Takdir memang selalu tepat. Tidak akan pernah melenceng. Sudah cukup kelas satu dia duduk didepanku, kelas dua dia duduk dibelakangku, dan sekarang kelas tiga dia duduk di sampingku,aishhh benar-benar.

“Baiklah anak-anak. Buka buku sejarah kalian” Satu suara dari depan kelas berhasil membuyarkan lamunanku. Buru-buru aku merogo tas mencari keberadaan buku sejarahku.

“Shit” Satu umpatan keluar dari mulutku, aku tidak menemukan buku paket sejarahku. Pasti tadi tertinggal di meja makan. Moodku semakin tidak enak, ingin sekali rasanya aku pulang dan tidur di kasur empukku.

Kulirik disebelahku, si hakseng keren nan pintar itu membalik-balikkan buku sejarahnya, mencari halaman tepat seperti yang diperintahkan oleh seonsengnim.

Aku hanya bisa menghela nafas kesal. Mungkin hari ini memang hari sialku, aku maklumi.

Aku hendak mengangkat tanganku, mengatakan bahwa aku lupa membawa buku kepada seonsengnim, mengakui kesalahan lebih baik dari pada ketahuan tidak membawa buku dan diusir dengan cara tidak wajar dari kelas. Tapi baru saja aku ingin mengangkat tanganku, satu tangan kekar menahanku. Menurunkan tanganku yang tadinya ingin kuangkat.

“Lupa membawa buku huh? Kau bisa pinjam punyaku” Ucap si Ssangnamja itu.

“Tidak perlu, kau sendiri belajar pakai apa?”

“Kita bisa berbagi”

“Itu tidak diperbolehkan”

“Hufftt..” Kulihat dia mendengus kesal, tangan kirinya menyodorkan buku sejarahnya padaku sedangkan tangan kanannya? Tangana kanannya kini sudah eksis mencuri perhatian seisi kelas.

Seonsengnim aku lupa membawa buku” Ucapnya dingin.

“Eum? Silahkan keluar Min Yoongi-ssi” Jawab Lee Seonsengnim tak kalah dingin.

Brandal Cerdas itu bangkit dari tempat duduknya berjalan keluar kelas untuk menjalani sesi hukumannya. Tunggu sebentar, terlalu banyak sebutan untuknya sampai aku bingung memakai yang mana, si Ssangnamja? Brandal Cerdas? Hakseng keren nan Pintar? Ck! Merepotkan panggil sajalah namanya, Min Yoongi atau Suga. Maklumilah, siswi-siswi yang mengidolakannya disekolah ini memberinya nama sebutan itu, ‘Suga’ karena mereka bilang, Yoongi itu sangat manis ketika tersenyum. Dua tahun aku disini, sejarahnya aku tak pernah melihatnya tersenyum.

Aku sempat tercengang seketika kala kulihat dia benar-benar keluar dari kelas. Wow itu baru namanya gentleman. Eh tunggu, apa aku sedang memujinya?. Persetan dengan gentleman, aku tak mau dikatakan pengecut, kau tahu aku ini juga gentlegirl, abaikan. Aku tak mau jadi pengecut yang membiarkan seorang yang tidak bersalah dihukum diluar kelas. Tapi terlalu beresiko jika terang-terangan membelanya didepan para murid-murid yang sebagian besar adalah penggemarnya ini. Ah sudahlah dari pada ambil pusing.

Kuraih buku sejarah Yoongi dan menaruhnya kedalam lacinya. Menguatkan mental sejenak sebelum mendapat hukuman dari Seonsengnim.

“Ekhem ekhem” aku berdehem menetralkan kembali pita suaraku.

Seonsengnim aku juga tidak membawa buku” Ucapku dibarengi tangan kanan yang telah eksis ini. Semua obsidian menatapku tak percaya, mungkin mereka baru pertama melihatku lupa membawa buku.

“Eum? Kim Hyerin? Baiklah silahkan keluar” Ucap guru itu dingin.

Aku beranjak dari dudukku, berjalan keluar kelas menyusul Yoongi.

“Eoh? Kenapa kau keluar juga?”
Tak mengindahkan pertanyaannya kuangkat saja kedua tanganku. Hukuman disini memang seperti ini. Berdiri diluar kelas sambil mengangkat tangan. Tapi mungkin Yoongi si brandal itu tidak terlalu patuh pada peraturan sekolah. Buktinya bukan mengangkat tangannya ia malah berdiri bersender didinding koridor, satu tangannya ia masukkan kesaku celananya sedangkan yang satu lagi sibuk membetulkan poninya. Dan lihat juga kakinya yang ia goyang-goyangkan itu.

“Menjalani hukuman” Jawabku sekenannya.

“Cih! Dasar Yeoja keras kepala” Aku hanya bisa mengerucutkan bibirku kesal kala aku mendengar ucapannya barusan.

Hening,kami sama-sama diam dan terlarut oleh pikiran masing-masing. Kau tahu? Kami bukan tipe murid yang banyak bicara. Kalau kami banyak bicara mana bisa kami secerdas ini bukan?. Omong-omong cerdas,sepertinya aku sudah ketinggalan pelajaran sejarah sekarang. Aku bisa mendengar samar-samar Seonsengnim menjelaskan didepan kelas. Ah sudahlah, lagi pula aku tak perduli,toh nanti akhirnya juga aku dapat peringkat kedua lagi.

‘Kryukk kryukk’ sial, disaat tidak tepat seperti ini dia malah berbunyi. Bisa hilang imageku didepan Brandal Cerdas ini. Sekarang aku merutuki kebodohanku tidak menghabiskan sarapanku tadi pagi, dan sekarang aku kembali lapar.

“Bunyi mengerikan apa itu?” Ucapnya. Ugh! Akan kukutuk mulut pedasmu itu Min Yoongi!.

“Bunyi dinosaurus” Jawabku asal sambil memasang tampang kesal.

“Dinosaurus meminta makan?” Ucapnya lagi. Huh! Dia itu mengejek atau menghina sih?.

“Mungkin” jawabku dingin. Min Yoongi menyebalkan! Cukup sudah kau membuatku kesal.

“Eh?” Aku terhyenyak ketika Yoongi menarik tangan kananku. Tanpa permisi dia menarik tanganku menjauhi kelas, apa yang ingin dia lakukan.

“Hei! Lepaskan!, apa yang ingin kau lakukan” Ucapku memberontak.

“Sudah diam saja” Tangan kekarnya masih mencengkram tangan kananku. Menarikku ketempat ini, kantin?.

“Eoh? A-apa yang–“

Ajhuma Bibimbapnya dua yah”

“Siap anak muda”

Eoh? Apa-apaan mereka, lihatlah bahkan mereka terlihat akrab sekali. Yoongi menarik tanganku untuk duduk di salah satu meja kantin sekolah ini. Disini sepi sekali, hanya ada kami berdua dan tiga orang pengurus kantin. Tentu saja sepi, mengingat ini masih jam kegiatan belajar mengajar.

“Ini bibimbapnya anak mudah, tumben sekali kau membawa teman” Ucap ajumha itu.

“Iya, dia lapar juga. Jadi aku bawa saja kemari” Ucap Yoongi ramah. Sepertinya mereka benar-benar akrab.

“Nde, selamat makan” Ajumha Itu pergi membawa nampannya.

“Tenang aku yang traktir” Ucap Yoongi tiba-tiba, cih! Dia fikir aku tak punya uang.

Alih-alih membalas ucapannya aku membuka pembungkus sumpit ini dan mulai memakan bibimbap didepanku ini.

“Cih! Kau fikir aku tak punya uang begitu”

“Bukan begitu, aku tahu kalau kau orang kaya. Tinggal gesek selesai, gesek selesai. Begitu kan?” Ucapnya santai masih sambil menikmati makanannya.

“Dari mana kau tahu?”

“Tentu saja aku tahu,aku juga begitu” Ucapnya dengan lagaknya itu. Sombong sekali.

Tak ingin terlibat adu mulut yang semakin lama semakin menjadi ini. Kuputuskan untuk diam, menikmati makananku. Kalau difikir-fikir Yoongi itu baik juga ya, tsk! Apa yang aku katakan.

“Ekhem.. Min Yoongi, sejak kapan kau berani mengajari hal yang tidak-tidak pada orang lain huh?!” Satu suara yang sangat familiar mengema ditelingaku. Astaga itu Lee Seonsengnim.

“Sejak tadi” Jawab Yoongi santai. Astaga matilah aku.

“Dan kau Kim Hyerin! Sejak kapan kau berani melanggar peraturan sekolah eoh? Bukan malah menjalani hukuman, kalian malah enak makan disini!” Aku terdiam mendengar teriakan Lee Seonsengnim. Seseorang tolong aku.

“Kalian berdua, akan kupotong nilai kalian minggu ini!” Teriaknya lagi. Mungkin telingaku akan peka setelah ini.
Kulirik Yoongi didepanku, ia masih santai, masih menikmati makanannya. Apa yang harus aku lakukan?.

“Sudahlah Saem.. kau ini cerewet sekali, kajja” Yoongi menarik tanganku pergi menjauhi kantin, meninggalkan seorang guru yang wajahnya memerah menahan emosi itu.

“MIN YOONGI!!”

•Skip•

Lonceng sekolah sudah berbunyi dari 3 menit yang lalu. Tapi bukan malah menikmati jam istirahat, kami justru sedang berdiri didepan meja Kepala Sekolah ini. Yah kami, aku dan Yoongi.

“Jadi apalagi Lee Seonsengnim?”

“Mereka melanggar peraturan sekolah! Bukan menjalani hukuman mereka malah makan dikantin Kyowonnim (*Kepala sekolah)” Ucap Lee Seonsengnim penuh emosi. Bak film-film kartun yang sering kutonton, petir dan kilat menyambar-nyambar di belakangnya.

“Benarkah begitu Min Yoongi?” Tanya Kepala Sekolah sopan. Kulirik Yoongi disampingku, dia mengangguk santai. Astaga beraninya dia.

“Dan kau Kim Hyerin? Kenapa kau ikut dengannya?” Tanya Kepala sekolah itu sopan kepadaku. Tampangnya yang sudah tua namun masih terlihat berwibawa dengan setelan jasnya itu membuat dia makin terlihat baik dengan sikapnya yang sopan itu.

“Eung.. a.. i-itu.. eung..” aku gugup setengah mati, tak punya nyali untuk menjawab pertanyaan orang terhormat ini.

“Aku memaksanya, aku minta maaf..” Aku tak berkutik ketika kulihat seorang Min Yoongi membungkukkan badannya hormat kepada Kepala sekolah sambil meminta maaf.

“Hem.. jangan diulangi lagi, kalian boleh keluar” Ucap Kepala sekolah itu ramah. Yoongi mengangkat kepalanya.

“Khamsahamnida” Ucap Yoongi dan kembali menarik tanganku keluar dari kantor kepala sekolah itu.

Meninggalkan Lee Seonsengnim yang sedang tercengang, untung saja tidak ada air liur yang keluar dari mulutnya.

“Kau ini berani sekali, dia itu Kepala sekolah” Ucapku yang masih ditarik olehnya ini.

“Ck! Dia itu Harabeojiku..”

“Eoh? Jadi dia kakekmu?” Ucapku tak percaya. Yoongi hanya mengangguk-angguk membenarkan ucapanku. Pantas saja pria itu memaafkan kami, ternyata Yoongi adalah cucunya.

“Aku mau kekantin, gara-gara kabur dari Lee Seonsengnim aku lupa membayar makanan kita tadi” Ucapnya melepas cengkraman tangannya dan pergi begitu saja. Dasar namja sok keren, hem.. tapi dia memang keren. Ah sudahlah .

Setelah itu, aku memilih kembali kekelas. Oh iya aku melupakan sesuatu, ikat rambutku. Aku berjalan sedikit tergesah-gesah menuju loker mengejar waktu istirahat yang tinggal tersisa beberapa menit lagi ini. Seorang gadis bersurai coklat tertangkap indra penglihatanku kala aku hendak mengambil ikat rambut dilokerku. Ia memasukkan sebatang coklat kedalam loker seseorang yang kuketahui bernama Min Yoongi itu. Kuputuskan untuk tidak memperdulikan gadis itu, kalau dilihat-lihat sepertinya dia adalah Hoobaeku.

Aku sedikit tercengang ketika mataku menangkap beberapa benda didalam loker Yoongi. Lokernya dipenuhi dengan makanan-makanan manis dan juga sticky notes. Astaga, sebegitu populerkah seorang Min Yoongi? Kuambil benda yang sedari tadi kucari, menyisir rambutku dan mengikatnya.

Kembali kekelas meninggalkan gadis yang sempat menarik perhatianku tadi. Kembali melakukan kegiatanku seperti biasa. Mencoret-coret kertas, menulis naskah.

.
.
.
.

TBC….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s