Fanfiction

FF/Suga BTS/Just Same As You/pt.3

2015-11-28-17-19-34_deco

Title : Just Same As You
Author : Lily @Army7a01_
Main Cast :
-Kim Hyerin (OC)
-Min Yoon Gi/ Suga (BTS)
Rating : T (15+)
Genre : School life, Romance, Family
Leght : Chaptered

Chapter 3 di sini. Kemarin vakum sampai chapter ini ya, jadi mulai chapter 4 lepas hiatus ;). Hati-hati TYPO :3

Maaf kalu receh dan alurnya kecepatan.
Hati-hati TYPO/?/

—————————-

-AUTHOR POV-

Jam pertama terasa begitu sangat singkat bagi seorang Hakseng bernama Min Yoongi itu.

Ia terbangun ketika mendengar suara lonceng sekolah yang menandakan bahwa jam pertama telah usai dan akan segera diganti dengan jam kedua dari pelajaran yang sama.

Merasa belum puas tidur, Yoongi kembali menjatuhkan kepalanya diatas meja dan mulai mencoba memejamkan matanya kembali.

1 menit berlalu dengan sia-sia.

Yoongi tak kunjung tertidur lagi, ia hanya memejamkan matanya namun ia masih sadarkan diri.

Dirinya merasa bahwa ia masih ingin tidur lagi. Namun hal itu malah berbanding terbalik dengan matanya yang memaksa agar ia tetap terjaga, bangun dan menulis catatan seperti apa yang dilakukan murid-murid lainnya.

“Hei Kim Hyerin”

“……..”

“Hyerin!”

“Hemmmmmm”

Panggilannya hanya dibalas dengan gumaman singkat dari gadis disampingnya yang masih sibuk menyalin kata demi kata dari papan tulis kebuku catatannya itu.

Yoongi berdecak sebal.

Kepalanya masih setia tergeletak diatas meja dengan satu tangannya yang menjadi bantal tidurnya.

“Apa susahnya menjawab panggilanku?”

“Aku sibuk. Sudahlah bilang saja apa yang ingin kau katakan”

“Sesibuk apa?”

“Jangan berbasa-basi”

“Ya baiklah, catatannya sudah banyak?” Tanya Yoongi pada Kim Hyerin yang sama sekali tidak melirik lawan bicaranya itu.

“Lumayan, Seonsengnim sudah dua kali menghapus papan tulis” Ucap Hyerin masih setia menulis di bukunya.

“Bolehkah aku pinjam?”

“Ya.. tapi kembalikan besok”

“Iya” Ujar Yoongi singkat lalu mengubah posisinya menghadap kearah lain. Kembali mencoba memejamkan matanya walaupun ia tahu bahwa ia tak mungkin bisa tertidur lagi.

–SKIP–

Hyerin masih setia berdiri di halte bus. Seperti kemarin, ia bermaksud ingin pulang berjalan kaki namun keadaan cuaca yang tidak bersahabat ini tak memungkinkannya untuk pulang berjalan kaki.

Sudah 20 menit ia berdiri disini, namun hujan tak kunjung redah juga.

Hyerin berkali-kali menghela nafas kesal, berkali-kali juga ia melihat jam yang tersemat ditangan kirinya.

Ingin rasanya ia menelpon Bibi Hwang untuk menyuruh mereka menjemputnya, namun ia baru sadar bahwa ia lupa membawa ponselnya.

25 menit, Hyerin mulai merasa kedinginan. Tangannya ia gosok-gosokkan mencoba menghangatkan dirinya sendiri.

30 menit, oke sudah setengah jam ia terus berdiri disini dan Hyerin sebagai seorang manusia juga punya tingkat kesabaran.

Dilepasnya tas yang menggantung dipundaknya untuk ia jadikan sebagai pengganti payung.

“Satu dua ti..” Hyerin mengambil ancang-ancang lalu berlari menerobos derasnya hujan yang masih mengguyur kota.

“Kim Hyerin!” Samar-samar Hyerin mendengar seseorang memanggil namanya ditengah hujan. Hyerin berusaha tak memperdulikan siapa orang yang memanggilnya itu, ia hanya terus berlari menuju rumahnya.

————————————————————

“Hatchiii!!”

“Hyerin, seharusnya kau tunggu dulu disana. Kami pasti akan menjemputmu” Ujar Bibi Hwang lembut sambil meletakkan susu hangat diatas nakas disamping kasur Hyerin.

Hyerin hanya terkekeh menertawai kebodohannya.

Ya, Hyerin berakhir pulang dengan bajunya yang basah kuyup.

Seharusnya ia mau bersabar beberapa menit lagi tadi. Bibi Hwang pasti akan menjemputnya yang belum pulang dari sekolah.

“Tidak apa kok Bi… Aku tidur ya, aku kedinginan”

“Iya… Bibi akan nyalakan penghangat ruangan”

Hyerin tersenyum kearah Bibi Hwang, entah mengapa tapi ia merasa senang diperhatikan oleh orang lain seperti ini.

———————————————

“Kim Hyerin”

“………..”

“Kim Hyerin? Apa dia tidak masuk? Apakah ada kabar?”

“Tidak tahu saem… Tidak ada surat atau pesan” Ujar sekretaris kelas.

“Ya baiklah, tulis saja Hyerin absen. Sekarang buka buku kalian” Guru itu memerintahkan murid-muridnya untuk membuka buku pelajaran mereka dan segera memulai pelajaran.

Yoongi membuka bukunya. Ia melirik bangku kosong disebelahnya, lagi.

Ia mengingat kejadian kemarin sore. Ya, Yoongi yakin kalau ia tak salah lihat. Yoongi melihat Hyerin berlari ditengah hujan. Bahkan ia sempat memanggilnya, namun ia tak mendapatkan sahutan.

Yoongi memandangi buku digenggamannya. Buku Hyerin yang ia pinjam kemarin. Padahal ia sudah janji mengembalikannya hari ini, namun Hyerin-lah yang malah tidak datang.

“Tsk! Pasti dia sakit” Gumam Yoongi kembali menyimpan buku Hyerin kedalam tasnya.

Yoongi mulai menulis, satu tangan kanannya memegang pen dan satu tangan kirinya ia sembunyikan dibawah meja memainkan ponselnya.

To: Kim Tae

“Hei, aku tahu kau punya nomor Hyerin”

From: Kim Tae

“Ada apa Hyung tanya-tanya nomor Hyerin noona? Dari mana Hyung tahu aku punya
Nomor Hyerin noona? :-O “

To: Kim Tae

“Sudahlah jangan banyak tanya! Berikan aku nomornya”

From: Kim Tae

“Aku tak mau jika kau memaksaku Hyung :-/ . Saem melihatku Hyung, Annyeong~ :-*”

“Dasar anak ini!” Satu umpatan keluar dari mulut Yoongi.

Ia kembali menyimpan ponselnya disaku dan kembali menulis.

——————————–

“Hatchiiii!!…Bi……… Aku bosan dikamar terus……”

“Kau harus istirahat Hyerin-ah, atau tidak besok kau akan bolos sekolah lagi” Ujar Bibi Hwang sambil menyuapkan sesendok bubur pada Hyerin.

“Tapi aku bosan Bi… Dari tadi pagi aku hanya berada dikamar saja. Sekarang pasti sudah pulang sekolah, ini sudah sore”

“Ssssttt… kau harus beristirahat Hyerin-a, Bibi ambilkan obat ya”

Hyerin menghela nafas pasrah. Sungguh ia benar-benar bosan terus berbaring dikasurnya seperti ini, namun bagaimanapun juga ia memang harus beristirahat. Atau tidak besok mungkin ia tidak akan masuk sekolah lagi.

“Ini obat dan airnya. Kalau kau ada perlu panggil saja bibi ya, bibi masih banyak pekerjaan” Ujar Bibi Hwang dan dibalas anggukan dari Hyerin.

Tangannya meraih obat dan segelas air diatas nakasnya.

Hyerin seperti ingin muntah saja. Semua makanan yang masuk kedalam mulutnya menjadi berubah rasa. Semua terasa hambar. Makanan yang enak saja jadi terasa hambar, apa lagi dengan obat yang rasanya pahit ini?.

‘syut~’ (?)

“Eh?” Hyerin terkejut bukan main. Sebuah kertas yang dilipat berbentuk pesawat mendarat mulus masuk kedalam gelasnya dari arah jendela.

Cepat-cepat Hyerin mengeluarkan lipatan kertas yang sudah basah itu dari gelasnya.

Hyerin berinisiatif ingin membuka lipatan kertas itu. Siapa tahu saja didalamnya ada pesan rahasia.

Namun ternyata isinya kosong, tidak ada tulisan apapun didalamnya.

‘syut~’

Satu lipatan kertas mendarat lagi, namun kali ini kertas itu mendarat jauh melewati kasurnya. Dengan berat hati dan terpaksa Hyerin bangkit dari kasurnya dan memungut lipatan kertas itu.

‘Hei’ 3 huruf, hanya 3 huruf itu yang tertulis dilipatan kertas kedua yang ia pungut tadi.

‘syut~’

“Hap!” Hyerin tersenyum puas, lipatan kertas yang ketiga berhasil ia tangkap.

‘Hei Hyerin! Kau tidur ya?’ Keningnya mengeryit bingung membaca kalimat yang tertulis di kertas ketiga.

Pelan-pelan Hyerin berjalan kearah jendela yang terbuka disamping tempat tidurnya. Memastikan siapa orang yang mengiriminya pesan kertas pesawat ini.

“Yoongi?”

“Hei! Kenapa kau tidak masuk sekolah!?” Ujar Yoongi berteriak dari depan rumah Hyerin.

“Pssssttt! Jangan berisik!” Sahut Hyerin pelan.

“APA?! Aku tidak dengar!” Ujar Yoongi berteriak, lagi.

“Ssssssstttttt….”

Ya, Hyerin mengakui kebodohannya. Jelas-jelas jarak antara jendela kamarnya dan tempat dimana Yoongi berdiri itu jauh. Jelas Yoongi tidak mendengar suaranya yang berbisik-bisik.

Hyerin meletakkan jari telunjuknya didepan bibirnya. Ia mengisyaratkan kalau ia akan turun kebawah menemui Yoongi.

“Jangan turun! Kau sakit kan? Aku yang akan kesana ya?!” Ujar Yoongi berteriak (lagi).

“Eh? Jangan!! Yoo-Yoongi!” Tanpa sadar Hyerin juga ikut berteriak heboh, dasar gadis bodoh.

Hyerin gelisah setengah mati melihat Yoongi yang mulai memanjat pagar rumahnya. Ia tak tahu bagaimana nasibnya jika Yoongi ketahuan oleh Bibi Hwang nanti.

Seketika lemasnya langsung hilang diganti dengan semangat mengusir orang yang kini sudah berhasil masuk kehalaman rumahnya.

“Yoongi!!”

“Ssssssttttt…” Sekarang gantian Yoongi yang berbisik menyuruh Hyerin berhenti meneriakinya.

Yoongi mengedarkan pandangannya kesekeliling halaman rumah Hyerin. Kalian pasti tahulah, dia sedang mencari tangga.

Yoongi menyeringai setelah netranya menangkap satu buah tangga lipat tersandar didinding samping garasi rumah Hyerin. Segera ia mengambilnya dan menyandarkannya kearah jendela kamar Hyerin.

Hyerin semakin panik. Wajahnya bertambah pucat melihat Yoongi yang mulai memanjat tangga yang megarah kerah jendela kamarnya.

‘Apakah perlu aku mendorong tangganya’

‘Oh tidak, ia bisa terjatuh’

‘Ia bisa mati nanti’

‘Jadi aku harus bagaimana?’

“Hap” Yoongi menepuk-nepuk tangannya yang kotor akibat memegang debu ditangga tadi.

“Hei, jangan melihatku seperti itu” Ucap Yoongi datar setelah menyadari tatapan horror Hyerin padanya.

“Mau apa kau?” Tanya Hyerin berbisik-bisik.

“Ini, buku catatanmu dan ini buku catatan pelajaran hari ini” Yoongi menaruh buku catatannya dan buku Hyerin yang kemarin ia pinjam ketangan Hyerin.

Mata Yoongi bergerilya memandangi sekeliling kamar Hyerin yang baru pertama ia kunjungi ini.

“Sudah? Ini saja kan? Kau bisa mengembalikannya besok kalau aku masuk sekolah. Sekarang pergilah”

“Kau ini mengusir orang seenaknya saja. Aku ini tamu. Biarkan aku duduk disini dulu, kau fikir memanjat itu tidak melelahkan” Ujar Yoongi mendudukkan bokongnya di kursi meja belajar Hyerin.

Hyerin hanya bisa menghela nafas berkali-kali.

“Siapa suruh kau memanjat?” Tanya Hyerin mulai kesal.

Yoongi diam tak mengacuhkan Hyerin. Matanya menangkap banyak sticky notes tertempel di meja belajar Hyerin.

Yoongi terkekeh pelan membaca salah satu dari banyak sticky notes yang tertempel.

‘Catatanku dipinjam Yoongi’

“Sekarang, ini tak perlu kau tempel disini lagi kan?” Yoongi mencabut sticky notes itu, merematnya lalu membuangnya ke tempat sampah disamping meja belajar.

“Kenapa kau berdiri saja? Bukankah orang sakit biasanya berbaring di tempat tidur bersama selimut tebal dan kompres yang menempel dikeningnya?”

Hyerin tetap berdiri sambil terus menatap horror Yoongi yang sedang membaca satu persatu sticky notesnya itu.

“Kenapa kau berdiri saja? Bukankah orang sakit biasanya berbaring di tempat tidur bersama selimut tebal dan kompres yang menempel dikeningnya?”
Perkataan Yoongi barusan kembali terngiang dikepalanya.

Bukankan tadi Hyerin bilang kalau ia merasa bosan? Mungkin Yoongi bisa membantunya menghilangkan kebosanan itu.

“Yoongi… Setelah pulang dari rumahku kau mau kemana?” Tanya Hyerin sembari ikut mendudukkan bokongnya diatas kasur empuk miliknya.

“Aku? Aku mau kerumah Taehyung. Aku ingin menghajarnya”

“Kerumah Taehyung?? Menghajarnya? Maksudmu….?”

“Tadi aku menanyakan nomor ponselmu padanya, tapi ia tak menggubrisku” Ujar Yoongi sambil memukul meja belajar didepannya.

Hyerin termenung sesaat, berusaha mencerna perkataan Yoongi yang barusan ia katakan tadi.

Yoongi menanyakan nomor ponselku?

“Tidak bisakah kau menemaniku pergi jalan-jalan?”

“Huh?”

“Eum… Temani aku berkeliling” Ucap Hyerin mengulangi perkataannya.

“Bukankah kau sakit? Seharusnya kau ti –”

“Aku bosan!” Ujar Hyerin sedikit kesal. Bibirnya memberengut, ia lebih mirip seperti seekor bebek sekarang.

Yoongi mengeryitkan keningnya bingung.

“Kalau begitu cepat ganti bajumu dan ayo kita pergi!”

Hyerin tersenyum girang, buru-buru ia mengambil baju didalam lemarinya dan melesat masuk kedalam kamar mandi.

Yoongi yang masih duduk di kursi meja belajar Hyerin mengacak-acak meja belajar gadis itu untuk mencari pen dan secarik sticky notes kosong.

Yoongi tersenyum miring setelah menemukan dua benda yang ia cari tadi tersusun rapi didalam laci meja belajar Hyerin.

‘Aku tidur, jangan ganggu’ Tulis Yoongi disticky notes itu.

Perlahan ia membuka pintu kamar Hyerin sambil mengintip memastikan kalau tidak ada orang yang menyadari keberadaannya. Setelah merasa aman, Yoongi menempelkan sticky notes itu tepat didepan pintu kamar Hyerin. Dikuncinya pintu kamar Hyerin rapat-rapat dari dalam dan kembali duduk manis ditempatnya semula.

Hyerin keluar dari kamar mandi dengan sepasang baju hangat yang melekat ditubuhnya.

“Kau benar-benar kelihatan seperti orang sakit saja. Baiklah, ayo turun!” ledek Yoongi sambil menyambar tasnya dan segera turun dari jendela kamar Hyerin.

Hyerin mengekor Yoongi dari belakang, menuruni tangga saja perlu tenanga dan perjuangan dan sekarang ia harus memanjat pagar lagi?, astaga tak sadarkah Hyerin kalau ia ini seorang gadis?.

“Panjat pelan-pelan, tidak sulit kok” Ujar Yoongi meyakinkan Hyerin.

Yoongi memanjat pagar rumah Hyerin pelan-pelan memberi contoh yang benar pada Hyerin.

Sekarang Yoongi sudah berada diluar pagar.

Pelan-pelan Hyerin memanjat pagar persis seperti yang dicontohkan oleh Yoongi tadi.

Hyerin hampir saja terpeleset kalau Yoongi tidak membantu memegangi tangannya.

Sekarang Hyerin dan Yoongi sudah berada diluar pagar. Mereka berhasil menyelesaikan misi melarikan diri bak tokoh-tokoh didalam film aksi yang sering Yoongi tonton.

Pipi Hyerin mendadak memerah seperti tomat karena tangan Yoongi yang tak kunjung lepas dari tangannya. Padahal ia sudah selamat dari insiden terpeleset barusan tadi.

“Jadi kau mau kemana?” Tanya Yoongi menyadarkan Hyerin dari lamunanya.

“Eum.. ke-kemana saja yang penting pergi” Ucap Hyerin gugup.

“Yasudahlah, ayo!” Yoongi menarik tangan Hyerin dan berlari menuju halte bus.

Seharusnya Yoongi tidak mengajak Hyerin berlari-larian, seharusnya Yoongi mengingat kalau gadis itu sedang tidak sehat.

Tak selang berapa lama mereka menunggu, satu bus berhenti tepat didepan mereka.

Lagi-lagi Yoongi menarik tangan Hyerin menuntunnya menaiki bus.

Yoongi memutuskan untuk duduk diujung kiri bus, karena itu adalah tempat favoritnya jika sedang naik bus umum seperti sekarang ini.

Yoongi duduk didekat jendela sedangkan Hyerin duduk tepat disebelahnya.

Hyerin berkali-kali menghembuskan nafasnya. Bukan, bukan karena ia lelah berlari-lari. Itu karena ia berhasil terbebas dari tangan Yoongi dan sekarang barulah ia bisa bernafas dengan lega.

Entah mengapa, tapi genggaman tangan Yoongi terasa hangat ditangannya.

Astaga apa yang kau fikirkan Hyerin?

“Kau pilih mana? Ke taman? Atau Ke Sungai Han?” Tanya Yoongi sambil mengobrak-abrik tasnya mencari sesuatu.

“Ke taman lalu ke sungai han” Ujar Hyerin lebih terlihat seperti orang yang memelas memohon belas kasihan.

“Huh? Ya baiklah. Kau ini seperti burung yang baru keluar sangkar saja”

Hyerin tertawa pelan mendengar Yoongi yang mengatainya. Ia melirik Yoongi yang masih sibuk mencari-cari sesuatu didalam tasnya.

“Kau mencari apa?”

“Ini, pakailah” Ujar Yoongi menyodorkan sepasang sarung tangan pada Hyerin.

Melihat Hyerin yang hanya diam saja tak menggubris ucapan Yoongi, membuat lelaki itu akhirnya menarik tangan Hyerin dan memakaikan sarung tangannya.

“Tanganmu dingin sekali, jangan perdulikan motifnya yang penting pakai saja” Ucap Yoongi sambil memakaikan sarung tangannya ketangan Hyerin.

“A-aku bisa pakai sendiri” Hyerin benar-benar gugup setengah mati melihat perlakuan Yoongi padanya. Hyerin terus menunduk sambil memakaikan sarung tangan itu ketangan kirinya.

“Go-gomawo Yoongi-ah…”

Oh astaga, sejak kapan Hyerin menggunakan embel-embel ‘ah’ dibelakang nama Yoongi?

Yoongi melirik Hyerin sekilas lalu tersenyum kearahnya.

Deg

Deg

Deg

Yoongi tersenyum? Benarkah? Sungguh?

Hyerin terpaku sesaat, kenapa hari ini Yoongi terlihat begitu berbeda? Ia seperti benar-benar berubah 180°.

Mulai dari mendatangi rumahnya, meminta nomor ponselnya, menggenggam tangannya, memberinya sarung tangan dan sekarang tersenyum (sekilas) kepadanya?

Mungkin…. Yoongi salah makan sesuatu, atau Yoongi belum meminum obatnya.

“Ayo turun”

Bus yang mereka naiki berhenti tepat didepan taman kota, tempat biasa Yoongi bermain basket.

Mereka berdua turun dan membayar tarif. Perlu diingat kalau Yoongilah yang membayarkan tarif milik Hyerin. Benar-benar teman yang baik.

Hyerin duduk disalah satu bangku taman sambil memperhatikan anak-anak yang sedang asyik bermain lari-larian kesana-sini. Berulang kali ia menghembuskan nafas menikmati udara luar. Memanfaatkan waktunya sebelum ia kembali kerumah dan terjebak didalam kamarnya lagi.

“Kau mau duduk saja atau kita keliling taman?” Tanya Yoongi tiba-tiba yang entah sejak kapan ikut duduk disebelah Hyerin.

“Eum… aku ingin keliling taman, tapi biarkan aku duduk disini dulu” Ujar Hyerin pelan.

“Kau lelah? Atau mau aku antar pulang lagi saja?”

“Eh, tidak kok! Kalau begitu ayo kita keliling” Hyerin bangkit dari duduknya, merapikan bajunya dan berjalan meninggalkan Yoongi dibelakangnya. Berjalan seperti orang normal pada umumnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

-TBC—————- 😛

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s